Welcome,

June 20th, 2010

Welcome To Prasasti Dwi P’s blog

Penyakit Tungro

June 20th, 2010

a. Sebaran dan Arti Ekonomi

Penyakit tungro mula-mula terbatas penyebarannya pada daerah tertentu seperti Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, NTB, dan Sulawesi Utara. Penyakit ini kemudian meluas ke Jawa Timur, Jawa Tengah dan Yogyakarta. Sampai tahun 1976 penyakit tungro hanya dilaporkan terjadi di 7 propinsi, namun diketahui telah tersebar di 26 propinsi yang meliputi 142 kabupaten (Ou, 1985).

Penyakit tungro pertama kali ditemukan menyeranga dan merusak pertanaman padi di wilayah sulawesi selatan pada tahun 1972 (Lande, 1987). Pada tahun 1980-an, penyakit ditemukan telah tersebar ke Bali, Jawa Timur dan saat ini telah ditemukan dan tersebar di hampir seluruh sentra pertanaman padi di Indonesia. Dalam kurung waktu 20 tahun terakhir penyakit tungro telah menyebar di 23 propinsi, diantaranya Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur yang meliputi 142 kabupaten dengan total luas serangan 242.693 ha (Ditjen Bina Perlindungan Tanaman, 1992). Di kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan pada MK. 2006, terjadi serangan tungro dengan luas serangan +500 ha. Pada masa tanam 2006, hampir semua areal persawahan di Kabupaten Monokwari Propinsi Irian Jaya Barat terserang berat penyakit tungro. Hal yang sama terjadi juga terjadi di pertanaman padi di Kabupaten Lombok Tengah propinsi Nusa Tenggara Barat. Berdasarkan hasil penelitian kesesuaian uji tetua ditemukan bahwa galur-galur yang berasal dari tetua Utri Merah dan ARC 1154 tahan terhadap virus tungro asal Manokwari (Irian Jaya Barat) dan Lombok Tengah (Nusa Tenggara Barat), sedangkan galur-galur yang berasal dari tetua Utri Rajapan memperlihatkan respon berbeda (Anonim, 2006). Hal ini diduga adanya perbedaan karakteristik dari setiap daerah endemis penyakit tungro.

Dari pengamatan yang dilaksanakan pada musim hujan 1996/1997 diketahui bahwa gejala penyakit tungro ditemukan pada pertanaman padi di bagian tengah dan selatan Jawa Barat, tetapi masih belum ditemukan gejala yang sama pada pertanaman padi dataran rendah jalur Pantura (Widiarta et al., 1997).

Spesies N. virescens Distant adalah vektor yang paling efisien menularkan kompleks virus penyebab penyakit tungro. Spesies tersebut saat ini mendominasi populasi spesies wereng hijau di hampir seluruh pertanaman padi kecuali Kalimantan Selatan. Permencaran imago dilaporkan sangat mempengaruhi dinamika populasi wereng hijau. Apabila sumber inokulum virus telah tersedia, aktivitas pemencaran imago tersebut diperkirakan sangat mempengaruhi penyebaran tungro. Virus tungro hanya dipindahkan oleh wereng hijau (Suzuki et al., 1992).

Menurut Chancelor et al., 1996, bahwa ledakan penyakit tungro di Indonesia antara tahun 1970 dan 1985 mengakibatkan 180.000 hektar padi puso yang menyebabkan kerugian mencapai US$ 90 juta. Pada musim tanam 1998/1999, penyakit tungro kembali meledak dengan perkiraan seluas 10.000-15.000 hektar yang terkonsentrasi di Lombok Tengah, Lombok Timur dan NTB dengan tingkat serangan berat sampai puso. Kehilangan hasil karena serangan tungro akan tinggi bahkan tidak bisa menghasilkan sama sekali bila kedua virus tungro (RTBV dan RTSV) menginfeksi tanaman dan terjadi pada saat awal fase vegetatif tanaman.

b. Virus Tungro

Berdasarkan gejala penyakit yang timbul dan reaksi varietas padi, telah diidentifikasikan strain virus tungro di beberapa negara Asia penghasil utama padi. Di Filipina ada strain mild (MS) dan strain severe (SS). Identifikasi beberapa strain ini dilakukan sebelum ditemukan bahwa virus tungro disebabkan oleh 2 bentuk virus yaitu RTBV (Rice Tungro Baciliform Virus) dan RTSV (Rice Tungro Spherical Virus) (Hibino, 1987).

Penyakit tungro adalah jenis penyakit pada tanaman padi yang disebabkan oleh asosiasi dari dua jenis virus. Kedua bentuk partikel virus yang berasosiasi yaitu RTBV (Rice Tungro Baciliform Virus) dengan ukuran 140 x 35 mm dan RTSV (Rice TungroSpherical Virus) dengan diameter antara 30 – 33 nm. RTBV merupakan anggota dari group”Badnavirus = Banana dna virus” dan hanya dapat ditularkan oleh wereng daun (leafhopper) secara semi persisten dengan hadirnya RTSV. RTSV masuk dalam group “Waika Viruses Sesquivividae” dan dapat ditularkan oleh wereng daun serta berfungsi sebagai “helper virus” untuk RTBV (Brunt et al., 1996).

Partikel RTSV dapat diambil oleh serangga dari tanaman, sedangkan partikel RTBV dapat diambil oleh serangga dari tanaman setelah serangga vektor terlebih dahulu mendapatkan RTSV (Hibino, 1987).

Kedua jenis partikel virus tersebut tidak memiliki kekerabatan serologi. Kedua partikel virus tersebut dapat berada di dalam suatu sel secara bersama-sama tanpa mengakibatkan terjadinya proteksi silang antara satu dengan yang lain (Mukhopdhyay, 1995).

c. Gejala Penyakit

Tungro adalah penyakit virus pada padi yang biasanya terjadi pada fase pertumbuhan vegetatif dan menyebabkan tanaman tumbuh kerdil dan berkurangnya jumlah anakan. Pelepah dan helaian daun memendek dan daun yang terserang berwarna kuning sampai kuning-oranye. Daun muda sering berlurik atau strip berwarna hijau pucat sampai putih dengan panjang berbeda sejajar dengan tulang daun. Gejala mulai dari ujung daun yang lebih tua. Daun menguning berkurang bila daun yang lebih tua terinfeksi (Widiarta, 2007).

Infeksi tungro pada tanaman padi khususnya varietas peka akan menimbulkan gejala kerdil, jumlah anakan berkurang. Daun menguning, menggulung keluar dan agak sedikit terpuntir. Tanaman yang kerdil pada ruas daun kedua memendek. Karena adanya perpanjangan pelepah daun baru maka daun yang membuka kadang-kadang pelepahnya terjepit. Akar tanaman berkurang dan gabah yag dihasilkan kecil dan sering tidak sempurna (Ling, 1987).

Timbulnya gejala dipengaruhi oleh varietas yang ditanam, umur tanaman saat terserang, strain dari virus dan bentuk partikelnya. Derajat perubahan warna daun sangat tergantung pada varietas padi yang terserang dan faktor lingkungan. Di lapangan gejala serangan awal penyakit tungro biasanya khas dan menyebar secara acak, berbeda dengan gejala defisiensi nitrogen yang umumnya homogen, penyebaran acak tersebut berkaitan dengan pola penyebaran dari serangga vektor, pada tingkat yang lebih lanjut gejalanya berkelompok (Anonim, 1997).

Gejala penyakit tungro pada tanaman yang terinfeksi virus mulai dapat dilihat pada umur 7 – 10 hari sesudah diinokulasi. Penelitian-penelitian di laboratorium dan rumah kaca telah menunjukkan bahwa N. virescens dapat menularkan kedua macam virus tersebut secara bersamaan atau masing-masing sendiri-sendiri dari tanaman yang terinfeksi oleh kedua virus tersebut. Tanaman yang terinfeksi oleh kedua virus tersebut menunjukkan gejala yang serius, yang terinfeksi oleh RTSV saja tidak menunjukkan gejala yang jelas, sedang konsentrasi RTBV yang tinggi dalam jaringan tanaman akan menyebabkan gejala berwarna orange pada daun (Suprihatno, 1999).

d. Tanaman Inang

Secara ekologis virus tungro mempunyai habitat yang sama seperti serangga vektornya. Tanaman inang selain padi juga beberapa jenis gulma seperti Echinochloa colona (L.) Link, E. crusgalli (L.), P. Beauv. ssp.hispidula (Retz) Honda, Eleusine indica (L.) Gaertn., Dactyloctenium aegyptium (L.) Beauv., Ischaemum rugosum Salisb., Hydrolea zeylanica (L.) Vahl., Leersia hexandra Sw., dan Panicum repens L. (Hasanuddin, 2002).

Virus tungro RTBV dan RTSV telah dilaporkan mampu bertahan pada turiang, gulma dan beberapa jenis padi liar. Tumbuhan inang tersebut dapat berperan menjadi sumber infeksi penyakit tungro dan vektornya untuk pertanaman padi sekitarnya, terutam di daerah yang waktu tanamnya tidak teratur atau tidak serempak (Hasanuddinn, 2002).

Anjaneyulu et al., (1988) menyatakan gulma-gulma yang telah diuji kemampuannya menjadi inang virus umumnya terinfeksi RTBV dan hanya Brachiaria mutia dan Axonopus compressus yang terinfeksi RTSV.

Dari beberapa penelitian diketahui bahwa di antara gulma-gulma yang dapat menjadi inang alternatif virus tungro, hanya Ciperus rotundus dan Monochoria vaginalis yang mampu menjadi sumber inokulum virus tungro bagi padi yang ditanam berikutnya. Sebagai inang alternatif bagi vektor tungro (N. virescens) tumbuhan tersebut mnejadi habitat pula bagi musuh alami serangga tersebut (Hasanuddin, 2002).

e. Siklus Penyakit dan Penularan

Penyakit tungro tidak akan menyebar jika tidak ada tanaman sakit yang menjadi sumber inokulum, demikian juga jika tidak ada wereng hijau sebagai vektornya. Adanya kedua faktor di atas dan kondisi lapangan menunjang perkembangan kedua faktor tersebut seperti: kepekaan varietas yang ditanam, tersedianya tanaman padi yang terus menerus, demikian juga faktor iklim seperti curah hujan dan kecepatan angin akan mempercepat penyebaran peyakit tungro (Baehaki dan Hendarsih, 1995).

Inokulum penyakit tungro dapat berasal singgang atau rumput inang yang sakit. Perpindahan virus ke tanaman inang dapat dilakukan dengan serangga vektor secara semi persisten. Wereng hijau dan wereng loreng merupakan vektor utama virus penyebab penyakit tungro. Di antara spesies wereng hijau dan wereng loreng terdapat perbedaan efisiensi menularkan virus. Rentang efisiensi penularan virus oleh populasi N. virescens antara 35-83%, sedangkan oleh N. nigropictus antara 0-27%. Spesies wereng hijau lainnya seperti N. malayanus dan N. parvus memiliki kemampuan menularkan virus berturut-turut 40% dan 7% (Hasanuddin, 2002).

RTBV dan RTSV tidak berkembang pada tubuh wereng hijau, virus tersebut tidak menular pada telur dari vektor virus dan menjadi hilang pada saat ganti kulit. Virus hanya tinggal sementara pada vektor. Wereng hijau yang telah mendapatkan virus segera dapat menularkan virus secara terus menerus (Ling, 1987).

Tungro tidak dapat ditularkan melalui biji ataupun secara mekanik, tetapi harus ada serangga penular (vektor) yaitu wereng hijau (Nephotettix spp.) atau wereng loreng ((Recilia dorsalis). Sifat penularan virus oleh vektornya bersifat semi persisten artinya periode akuisisi minimum 5-30 menit dan periode inokulasi minimum 7-30 menit. Masa inkubasi virus pada tanaman 6-10 hari, virus dapat ditularkan melalui semua stadia serangga, yaitu nimfa dan imagonya, jantan dan betina, tapi tidak melalui telur. Virus tidak menular melalui tanah, air atau biji padi (Tantera, 1982).

Tidak ada periode laten yang jelas, sehingga serangga dapat menularkan virus segera setelah menghisap tanaman sakit. Secara bertahap serangga akan kehilangan infektivitasnya, sehingga 50% dari serangga menjadi tidak infektif 24 jam setelah waktu akuisisi. Retensi virus dalam tubuh serangga berkisar dari 3-6 hari. Virus tidak diturunkan melalui telur, jadi nimfa dari wereng yang infektif tidak menjadi infektif, demikian juga pergantian kulit menyebabkan hilangnya keefektifan dari wereng tersebut (tidak transtadial). Diantara beberapa jenis wereng hijau dan wereng loreng, N. virescens merupakan serangga yang paling efektif sebagai vektor. Oleh karena itu menyebarnya virus tungro ini sangat bergantung kepada besarnya populasi, jenis wereng hijau dan stadia vektor itu sendiri. Jarak penyebaran oleh wereng hijau dari sumber inokulum kira-kira 250 meter tetapi bila ada angin maka penyebaran tersebut menjadi lebih luas lagi (Ling, 1987).

f. Ketahanan Varietas

Konsep ketahanan tanaman terhadap penyakit mengacu pada hipotesis “gene-for-gene”, bahwa yang menimbulkan ketahanan dan kerentanan adalah interaksi reaksi gen ketahanan pada inang dan gen virulensi pada patogen. Gejala akan muncul jika gen virulensi pada patogen sesuai dengan gen ketahanan pada inang. Ketahanan terhadap penyakit dapat dikelompokkan dalam dua macam ketahanan, yaitu ketahanan vertikal dan ketahanan horisontal.

Kenyataan di lapangan menunjukkan tingkat ketahanan suatu varietas menurun apabila ditanam terus menerus (Manwan et al.,1987). Lebih jauh hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas tersebut hanya tahan terhadap serangga penularnya (Nephotetix sp.) bukan terhadap virusnya (Socwito et al.,1987).

Ketahanan vertikal merupakan mekanisme ketahanan tanaman yang dikendalikan oleh gen mayor yang biasanya tunggal hingga mudah diidentifikasi. Ketahanan ini dapat mengendalikan penyakit secara sempurna , tetapi sifat ketahanannya mudah patah karena tekanan seleksi penyakit yang tinggi. Ketahanan horisontal adalah ketahanan tanaman terhadap penyakit yang mekanismenya dikendalikan oleh gen-gen minor yang biasanya poligeni, yaitu pengaruh masing-masing gennya kecil, serupa, bersifat kumulatif, hingga sulit diidentifikasi.

Ketahanan ini secara teori cukup bagus, karena sifat ketahanannya tidak mudah patah. Ketahanan horisontal mempunyai ketahanan yang tersebar sama tigkat ketahanannya terhadap semua ras dari suatu spesies patogen. Tanaman padi yang tahan tungro memiliki mekanisme ketaanan secara toleran dan avoidan. Mekanisme ketahanan toleran adalah suatu mekanisme ketahanan dimana virus tungro dapat berkembang di dalam tanaman, tetapi tanaman tetap tahan. Mekanisme avoidan terjadi dimana tanaman mengembangkan suatu mekanisme tertentu hingga virus tidak dapat masuk ke dalam tanaman (immun), sehingga tanaman tetap tahan. Mekanisme lain adalah virus tungro dapat masuk ke dalam tanaman, tetapi virus tungro tidak dapat berkembang di dalam tanaman (resistance multiplication) (Hasanuddin, 2002).

Resistansi inang terhadap virus berbeda dengan resistansi terhadap pathogen lain maupun serangga. Ada enam tipe resistansi inang terhadap virus yakni ; (1). imun (immunity), (2). resisten terhadap infeksi virus (resistance to virus infection), (3). resisten terhadap penyebarab virus (resistance to virus spread), (4). resisten terhadap multiplikasi virus (resistance to virus multiplication), (5). toleran (tolerance), dan (6). resisten terhadap vektor (resistance to the vektor) yang dapat dibedakan sebagai, (a) no preference, (b) antibiosis dan (c) toleran (Ling, 1987).

Varietas-varietas yang dikenal tahan virus tungro pada umumnya juga memiliki gen ketahanan terhadap wereng hijau (Suprihatno, 1999). Hasil penelitian di IRRI (Dahal dan Hibino, 1985) dengan menginokulasikan 1, 3, dan 5 wereng hijau yang mengandung virus tungro pada satu bibit umur satu minggu menunjukkan bahwa berapapun jumlah wereng hijau diinokulasikan pada Utri Merah, Utri Rajapan dan Gam Pai 15, persen infeksi tungronya tetap rendah. Utri Merah dan Utri Rajapan tergolong peka terhadap wereng hijau tetapi tahan terhadap virus tungro.

Selanjutnya dikemukakan pula oleh Sama, dkk (1983) bahwa di samping varietas-varietas tersebut, varietas lain yang tergolong tahan virus tungro adalah ARC 11554, Pankhari 203 dan Habiganj DW8. Hasil penelitian di Maros juga menunjukkan bahwa Gam Pai 15, PB 34, Pankhari 203 dan Pt 18 merupakan varietas yang tahan terhadap serangga N. virescens dan virus tungro, sedang varietas Ambemohar 159, Habiganj DW8 dan Kataribho merupakan varietas yang peka terhadap wereng hijau tetapi tahan terhadap virus tungro.

Penelitian di IRRI dengan menggunakan persilangan Pankhari 203/TN1 menunjukkan bahwa sifat ketahanan terhadap tungro adalah dominan, dan dikendalikan oleh dua pasang gen yang komplemen satu sama lain (IRRI, 1989). Dengan menggunakan persilangan PB8/Lati Sail ini juga dikendalikan oleh dua pasang gen yang saling komplemen satu sama lain (Shastri dkk, 1989). Selanjutnya pada persilangan CR94-13/IR1416-131-5 ternyata ketahanan terhadap tungro dikendalikan oleh dua pasang gen yang dominan tidak sempurna (incomplete dominant). Disamping itu ditunjukkan pula bahwa sifat tahan pada CR94-13 tidak berbeda dengan IR833-6-2 yang merupakan turunan dari Gam Pai 15 (Lande, 1987).

Mengenai resistensi varietas, hendaknya diingatkan kembali bahwa ini terjadi oleh dua hal yang berbeda. Resistensi terhadap wereng hijaunya sendiri dan reaksi terhadap virus tungro. Kedua resistensi ini bersifat bebas satu sama lain dikelola oleh gen yang berbeda pula. Sumber gen resisten terhadap wereng hijau adalah PTB 18 dan Pankhari 203. Sumber resistensi terhadap virus adalah Gam Pai dan beberapa varietas lainnya. Resistensi terhadap wereng hijau dipengaruhi oleh paling sedikit dua hal : non preference dan atau antibiosis (Tantera, 1982).

Menurut pengalaman, apabila dilakukan penanaman terus menerus dengan satu varietas atau satu kelompok varietas yang memiliki gen tahan wereng hijau (Glh) dan virus tungro yang sama, maka setelah jangka waktu tertentu, varietas/kelompok varietas ini secara berangsur-angsur akan menjadi lebih rentan. Hal ini tergantung dari tingkat kemampuan vektor mengembangkan biotipe baru yang dapat beradaptasi dengan varietas/kelompok varietas yang terdapat di pertanaman serta dapat mengakibatkan patahnya perlawanan gen tahan terhadap wereng hijau (Glh) maupun tungro dari varietas/kelompok varietas yang bersangkutan (Sama, 1985).

Pengamatan penting lainnya menunjukkan bahwa varietas yang sama atau suatu golongan varietas yang sama dengan daur hidup wereng hijau yang lebih pendek dan bereaksi tahan pada suatu lokasi, dapat menunjukkan daur hidup yang tidak selalu sama, dan mungkin pula dapat bereaksi sebagai varietas rentan di tempat yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa N. virescens pada lokasi yang berbeda tidak mempunyai kemampuan yang sama untuk bertahan hidup terus atau untuk menciptakan reaksi yang sama terhadap satu varietas yang sama atau beberapa varietas. Kejadian ini menunjukkan bahwa biotipe wereng hijau yang ada di alam terjadi karena koloni-koloninya berbeda dalam kemampuan bertahan hidup terhadap penularan tungro pada varietas-varietas padi. Hal ini dapat dianggap sebagai suatu sifat fisiologis wereng hijau yang juga disebut satu biotipe yang dihubungkan dengan subdivisi dari suatu spesies atau subspesies yang terdiri atas satu kelompok individu yang memiliki sifat fisiologis tertentu (Anonim, 1989).

g. Pengendalian

Berdasarkan pemahaman adanya stadia tanaman pada infeksi, dinamika vektor, dan epidemiolodi virus, maka strategi untuk mengendalikan tungro adalah mengusakhakn perlindungan dini terhadap tanaman saat fase vegetatif awal, menekan proporsi vektor viruliferous, dan sanitasi selektif sumber inokulum virus bulat. pengendalian pratanam antara lain merencanaka menanam padi serempak pada areal dengan luas minimum 40 ha, berdasarka jangkauan dari satu sumber inokulum; merencanaka waktu tanam dengan memperkirakan saat puncak kepadatan populasi wereng hijau dan keberadaan tungro pada saat itu padi telah melewati vase vegetatif, membersihkan sumber inokulum tungro seperti singgang, bibit yang tumbuh dari ceceran gaba, rumput teki, dan eceng sebelum membuat pesemaian, tetapi tetap membiarkan pematang ditumbuhi rumput lain selain sumber inokulum untuk tempat berlindung musuh alami, merencanakan menanam varietas tahan wereng hijau atau tahan tungro dengan memperhatikan kesesuaian varietas berdasarkan tetua tahan (Anonim, 2002).

Pengendalian hayati terhadap N. virescens sebagai vektor virus tungro juga dapat dilakukan. Pada tabel 1 berikut ini beberapa musuh alami potensial N. virescens.

Tabel 1. Musuh alami wereng hijau N. virescens (Reissig et al., 1986)

Musuh Alami Keterangan
Paracentrobia andoi (Ishii)Oligosita naias (Girault)

Gonatocerus cincticipitis Sahad

Anagrus optabilis (Perkins)

Gonatocerus sp.

Cyrtorhinus lividipennis Reuter

Pipunculus mutillatus (Loew)

Tomosvaryella oryzaetora (Koizumi)

Haplogonatus sp.

Haplogonatus apicalis

Echthtrodelphax fairchildii (Perkins)

Halictophagus munroei (Hirashima)

Microvelia douglasi atrolineata

Stenonabis tagalicus (Stal)

Drapetis sp.

Lycosa pseudoannualata (Boesenberg)

Crocothemis servilia (Drury)

Atypena formosana (Oi)

Agriocnemis femina femina (Brauer)

Argiope catenulata (Doleschall)

Araneus inustus (L. Koch)

Tetragnatha maxillosa (Boesenberg)

Clubiona japonicola (Boesenberg)

Hexamermis sp.

Enthomophthora coronata

Beauveria bassiana (Balsamo)

Parasitoid telurParasitoid nimfa/imago

Predator

Patogen (nematoda)

Patogen (cendawan)

Patogen (cendawan)

Pengendalian dengan pengaturan waktu tanam. Pola pergiliran varietas tahan wereng hijau yang memiliki beragam gen tahan diharapkan dapat memperpanjang durasi ketahanan varietas. Berdasarkan pada sumber gen tahan tetuanya, varietas tahan wereng hijau digolongan menjadi lima golongan. Penerapan waktu tanam tepat memerlukan kesempatan tanam dalam satuan luasan tertentu (Sama et al.,1991),

Estimasi satuan unit tanam sermpak. Hal ini menunjukkan bahwa populasi serangga N. virescens dan intensitas seranga tungro pada semua petak pangamatan yang ditanam sesuai anjuran relatif rendah, kecuali dilokasi yang disediakan sebagai sumber inokulum mencapai 88,9%. Keberadaan tungro turun drastis sampai pada jarak 300 m dari sumber inokolum. Sebaliknya populasi serangga N. virescens cukup bervariasi (27 – 38 ekor per 10 kali ayunan jaring). Kepadatan populasi wereng hijau dipengaruhi oleh lokasi. Apabila penyebaran tungro sama untuk kesemua arah inokulum, diperkirakan luas penyebaran tungro dari satu sumber adalah 25 ha (Hasanuddin et al., 1999).

Uji adaptasi koloni N. virescens sebagai dasar pergilira varietas. Dari hasil pengujian kemampuan menularkan tungro kepada kelima golongan varietas diketahui urutan tingkat ketahanan golongan varietas dari yang tahan sampai yang rentan adalah golongan T4, T2, T1, dan T3. wereng hijau yang paling tinggi kemampuannya menularkan virus adalah koloni NTB.tingkat adaptasi wereng hijau dari Sulawesi Selatan mirip denga populasi Yogyakarta. Terdapat variasi kemapuan penularan virus oleh wereng hijau pada berbagai smber gen ketahanan varietas. Dengan variabilitas daya tular tersebut membuka peluang pengendalian tungro dengan pergiliran varietas spesifik lokasi. Fakta lapangan di daerah tanam tidak serempak di Bali menunjukkan bahwa varietas dengan sumber gen ketahanan berbeda menujukkan perbedaan serangga tungro (Widiarto et al, 1997a).

Eradikasi sumber inokulum RTSV, Faktor utama yang menjadi penyebab dapat terjadinya penyebaran penyakit tungro Adalah keberadaan RTSV sebagai sumber inokulum. Telah dibuktikan bahwa penyebaran penyakit tungro tidak terjadi jika vektor tidak membawa RTSV . dengan demikian peranan wereng hijau (imigran) yang membawa RTSV sangat menentuka terjadinya ledakan tungro atau pemyebaran RTBV.dengan mengetahui sumber inokulum virus RTSV sedini mungkin, strategi pengendalian penyakit tungro dapat dirumuskan. Eliminasi atau eradikasi sumber inokulum virus RTSV, ,mencegah terjadinya ledakan dan penyebaran penyakit tungro. Strategi pengendalian penyakit. Menurut Hasanuddin (1999),sumber inokulum virus RTSV dapat berupa tanaman padi, turiang, tanaman yang tumbuh dari biji yang tercecer, gulma dan serangga vektor ( Nephotettix sp).

Antifeedant penghambat vektor memperoleh virus. Kegagalan perolehan virus serta hubungannya dengan pola kebiasaan makan serangga vektor. Aplikasi antifidan pada tanaman padi menyebabkan wereng hijau lebih banyak istirahat dan berkurang frekuensi menghisapnya pada jaringan pembuluh tempat virus berada (Hasanuddin, 2002). Dari hasil percobaan (Widiarta et al., 1997b) diketahu bahwa aplikasi antifidan terbut mengurangi frekuensi menghisap dan berkurangnya jumlah tusukan stile. Dari hasil penelitian ini menunjukkan adanya peluang intervasi mengunakan antividan untuk menekan efisiensi perolehan virus tungro oleh wereng hijau.

Uji kesesuaian varietas tahan virus tungro dan sumber inokulum yang diambil dari berbagai daerah endemis untuk mengetahui tingkat virulensinya terhadap varietas tahan yang baru dilepas diketahui adanya keragaman virulensi inokulum. Tingkat virulensi sumber inokulum dari Jawa Tengah sebanding dengan inokulum dari Jawa Barat, inokulum Bali sebanding dengan Jawa Timur, inokulum lainnya (Widiarta dkk, 1997a).

Dengan menggunakan kriteria tingkat ketahanan, varietas yang baru dilepas penggunaannya dapat diajurkan sebagai berikut: varietas Tukad Patanu dapat dianjurkan untuk seluruh daerah endenis, sedang Tukat Unda terbatas untuk NTB dan Sulawesi Selatan, dan varietas Tukat Balian untuk Bali dan Sulawesi Selatan Di Bali saat ini varietas Tukat Unda dan Tukat Balian masih tahan terhadap tungro karena tekanan penularan secara alami lebih rendah dibanding penularan buatan di rumah kaca. Meskipun demikian, dengan mem-pertimbangkan hasil penularan buatan kedua varietas tersebut hendaknya dapat digilir penggunaannya untuk mengurangi tekanan seleksi penyakit (Hasanuddin, 2002).

Jadwal Pertandingan Piala Dunia 2010

June 20th, 2010

Jadwal Grup A

11 Juni 2010
21:00 Afrika Selatan v Meksiko, Soccer City, Johannesburg

12 Juni 2010
01:30 Uruguay v Prancis, Cape Town Stadium, Cape Town

17 Juni 2010
01:30 Afrika Selatan v Uruguay, Loftus Versfeld Stadium, Pretoria

17 Juni 2010
18:30 Prancis v Meksiko, Peter Mokaba Stadium, Polokwane

22 Juni 2010
21:00 Meksiko v Uruguay, Royal Bafokeng Stadium, Rustenburg
21:00 Prancis v Afrika Selatan, Free State Stadium, Bloemfontein

Jadwal Grup B

12 Juni 2010
18:30 Argentina v Nigeria, Ellis Park Stadium, Johannesburg
21:00 Korea Selatan v Yunani, Nelson Mandela Bay Stadium, Port Elizabeth

17 Juni 2010
21:00 Argentina v Korea Selatan, Soccer City, Johannesburg

18 Juni 2010
01:30 Yunani v Nigeria, Free State Stadium, Bloemfontein

23 Juni 2010
01:30 Yunani v Argentina, Peter Mokaba Stadium, Polokwane
01:30 Nigeria v Korea Selatan, Moses Mabhida Stadium, Durban

Jadwal Grup C

13 Juni 2010
01:30 Inggris v Amerika Serikat, Royal Bafokeng Stadium, Rustenburg

13 Juni 2010
18:30 Aljazair v Slovenia, Peter Mokaba Stadium, Polokwane

18 Juni 2010
21:00 Inggris v Aljazair, Cape Town Stadium, Cape Town

19 Juni 2010
01:30 Slovenia v Amerika Serikat, Ellis Park Stadium, Johannesburg

23 Juni 2010
21:00 Amerika Serikat v Aljazair, Loftus Versfeld Stadium, Pretoria
21:00 Slovenia v Inggris, Nelson Mandela Bay Stadium, Port Elizabeth

Jadwal Grup D

13 Juni 2010
21:00 Jerman v Australia, Moses Mabhida Stadium, Durban

14 Juni 2010
01:30 Serbia v Ghana, Loftus Versfeld Stadium, Pretoria

18 Juni 2010
18:30 Jerman v Serbia, Nelson Mandela Bay Stadium, Port Elizabeth

19 Juni 2010
18:30 Ghana v Australia, Royal Bafokeng Stadium, Rustenburg

24 Juni 2010
01:30 Australia v Serbia, Mbombela Stadium, Nelspruit
01:30 Ghana v Jerman, Soccer City, Johannesburg

Jadwal Grup E

14 Juni 2010
18:30 Belanda v Denmark, Soccer City, Johannesburg
21:00 Jepang v Kamerun, Free State Stadium, Bloemfontein

19 Juni 2010
21:00 Belanda v Jepang, Moses Mabhida Stadium, Durban

20 Juni 2010
01:30 Kamerun v Denmark, Loftus Versfeld Stadium, Pretoria

25 Juni 2010
01:30 Denmark v Jepang, Royal Bafokeng Stadium, Rustenburg
01:30 Kamerun v Belanda, Cape Town Stadium, Cape Town

Jadwal Grup F

15 Juni 2010
01:30 Italia v Paraguay, Cape Town Stadium, Cape Town
18:30 Selandia Baru v Slowakia, Royal Bafokeng Stadium, Rustenburg

20 Juni 2010
18:30 Italia v Selandia Baru, Mbombela Stadium, Nelspruit
21:00 Slowakia v Paraguay, Free State Stadium, Bloemfontein

24 Juni 2010
21:00 Paraguay v Selandia Baru, Peter Mokaba Stadium, Polokwane
21:00 Slowakia v Italia, Ellis Park Stadium, Johannesburg

Jadwal Grup G

15 Juni 2010
21:00 Brasil v Korea Utara, Ellis Park Stadium, Johannesburg

16 Juni 2010
01:30 Pantai Gading v Portugal, Nelson Mandela Bay Stadium, Port Elizabeth

21 Juni 2010
01:30 Brasil v Pantai Gading, Soccer City, Johannesburg
18:30 Portugal v Korea Utara, Cape Town Stadium, Cape Town

25 Juni 2010
21:00 Korea Utara v Pantai Gading, Mbombela Stadium, Nelspruit
21:00 Portugal v Brasil, Moses Mabhida Stadium, Durban

Jadwal Grup H

16 Juni 2010
18:30 Spanyol v Swiss, Moses Mabhida Stadium, Durban
21:00 Honduras v Cili, Mbombela Stadium, Nelspruit

21 Juni 2010
21:00 Spanyol v Honduras, Nelson Mandela Bay Stadium, Port Elizabeth
22 Juni 2010
01:30 Cili v Swiss, Ellis Park Stadium, Johannesburg

26 Juni 2010
01:30 Swiss v Honduras, Free State Stadium, Bloemfontein
01:30 Cili v Spanyol, Loftus Versfeld Stadium, Pretoria

sumber: http://pialadunia2010.org